Jumat, 30 Desember 2016

Luka Sementara

Jangan lagi kau goreskan tinta
Hitamnya tak pernah ada
Sebatas sandiwara saja
Namun akhirnya berujung luka

Memintamu untuk tinggal hanya impian
Kau memilih mengejar kenangan
Menggali dalam setiap denyutan
Menyibak semua perasaan

Aku tak ingin berlama
Menjaga hati yang tak bernama
Ini menjadi petaka
Membuatku mati rasa

Biarkan saja aku di sini
Luka ini telah mengering
Sama seperti air mataku
Tak akan pernah lagi mengalir

#R_31des2016

Belajar dengan Kehidupan

Jangan membuatku benci
Jika tak ingin kubenci
Aku tak menuntut banyak darimu
Hanya sedikit yang ingin kucari
Kedamaian diri hakiki

Tingkahmu tak layak kupanggil tua
Tuturmu tak pantas kusebut dewasa
Kau tak terlihat menawan
Apalagi mengagumkan

Aku bukan pembenci kelas kakap
Membencimu adalah sia-sia
Sebab kau tak akan mengerti
Perjuangan yang sebenarnya

Lihatlah, paling tidak melirik
Berubahlah, setidaknya belajar
Kesalahan memang menjadi momok
Tapi akan menjadi buta bila tak sadar
Bahwa hidup tak terus seperti ini

#R_31des2016

Sebatang Lagi

Kau terlihat hanya sebatang
Seperti tipuan memang
Namun asapmu mematikan
Abumu tak pernah menjanjikan

Ketika kuhirup udara pagi
Mereka tak lagi segar
Hanya gara-gara sebatang
Mengubah putih menjadi petang

Ia meminta "sebatang lagi"
Kupastikan hidup ini tak akan panjang
Dada sesak penuh kotoran
Asap putih melilit kerongkongan

Sudahlah...
Tak berguna lagi sebatang itu
Aku masih ingin meramu masa depan
Hiruplah sendiri kematianmu
Tanpa harus menodaiku

#R_31des2016

Rupiah Ibu Kota

Semakin hari semakin sulit
Apa dunia menjadi sempit?
Sehingga banyak manusia menjerit
Karena kebutuhan semakin menghimpit

Mereka berlarian ke ibu kota
Harapan bekerja kian menyapa
Namun sepertinya percuma
Tak sedikit yang putus asa

Klakson kendaraan bersautan
Saling berperang menembus kemacetan
Manusia mulai menumpuk
Layaknya semut tengah mencari makan

Tak seperti apa yang kukira
Indahnya ibu kota bukan jaminan
Banyak orang yang tak ingin susah
Namun apa daya itu hanya sekedar angan

#R_31des2016

Cinta Sebenarnya

Jika cinta, tak usah meninggi
Cinta tak butuh sosial media
Ia hanya ingin menikmati
Setiap detik insannya menyayangi

Jika cinta, tak perlu kau berbagi
Cukup kau rasakan sendiri
Belajar menjaga sebuah hati
Tanpa harus saling menyakiti

Jika aku cinta, aku akan berdiri
Menyendiri dan mulai memahami
Jika kau tengah mencinta, jangan kau hindari
Rasakan tiap getarnya dalam denyut nadi

Aku mencintaimu, tanpa harus kuabadikan dalam pajangan
Memeluk mesra bak pasangan yang tanpa rintangan
Aku mencintaimu cukup dalam dekapan
Tak harus ditunjukkan namun tetap kuperjuangkan

#R_31des2016

Wanita Rupawan

Aku tengah jatuh cinta
Kepadamu wanita bermata coklat
Rambut panjang hitam bergelombang
Bibir tebal namun rupawan
Kulihat seperti lukisan indah menawan

Sosok yang sempurna
Berdiri semampai kaki memanjang
Suara lembut kian merengkuh sadarku
Senyum manis bak gula batu

Hai wanita, siapa kau punya nama?
Aku tak akan menggoda
Biarkan saja aku mengenalmu
Menyelamimu dalam setiap tanyaku
Mendekatkanku dengan duniamu

Kini aku pun tak mampu menahan
Seakan mulut ingin melamar
Janji manis bukan harapan
Aku hanya ingin semua jadi kenyataan

#R_30des2016

Sekedar Mengingat

Aku menyebutmu seorang kekasih
Mengasihi, mencintai, dan terus merindukan
Tak pernah melepas genggaman
Erat kau memelukku hingga dalam

Sayang...
Hati ini sudah terpaut
Semua telah bercampur dalam satu emosi
Bukan lagi kamu, namun kita yang berpadu

Sayang...
Puisi sedih itu hanya masa laluku
Meluap tanpa kendali
Seperti luka kenangan yang enggan tuk dihindari

Sayang...
Hadirmu memberi cerita
Menjadikan abu ke biru
Menghiasi langkah kecilku
Menebar warna di setiap bayangan

Waktu telah berlalu begitu cepat
Memberi banyak pelajaran dalam hidup
Tak akan aku meninggalkan
Jejakmu sulit tuk kuhapuskan

#R_30des2016

Rabu, 21 Desember 2016

Rangkulan Sang Bidadari

Ini yang akan selalu kurindukan
Panas dan dingin selalu bergantian
Tak pernah bertumpuk
Menjadikan hati enggan khianati

Sempat aku bermimpi
Memuja wanita bak bidadari
Tak pernah bisa untuk dimiliki
Namun hati keras untuk menghampiri

Sadarlah kau wanita berparas ayu
Senyum bibir tipis itu kian merayu
Seakan mengajak merangkul bayangmu
Sembari bergurau di malam yang syahdu

Aku yakin kaupun berpikir begitu
Melalang bersama sang penikmat rindu
Hati yang kaku akan tunduk
Pada sikapmu yang lembut bak ratu

Wahai bidadari, di mana tinggalmu?
Akan kujamah bersama tekadku
Untuk pulang membawamu
Menjadikanmu malaikat penjaga tidurku

R_21des2016

Cerita Sedih

Masih belum bisa membedakan
Apakah bahagia selalu bersama?
Apakah kehilangan pasti berujung kesedihan?

Kau lihat aku
Cari di mana bahagiaku
Bahkan kau tak akan menemukan raut sedih

Satu penjelasan
Aku akan menutupnya rapat
Seperti air yang tak akan tumpah di dalam botol berkancing kuat

Aku enggan mengemis
Demi bahagiaku sendiri
Terlebih aku pun mulai menyadari
Sedih dan bahagiaku tak akan kau curi

#R_21des2016

Selasa, 20 Desember 2016

Bibir Gelas Memerah

Setidaknya kau masih ingat
Saat itu matahari enggan beranjak
Kelam pagi berselimut petang
Menyakitkan memang ketika perasaan ini pun demikian

Seduhan hangat di gelas berwarna hitam
Minuman pahit tak berasa
Seperti tak berbekas
Namun masih teringat di lubuk yang paling dalam

Kau hampir menuangnya
Seraya berucap tak enak kata
"Inikah yang disebut kedamaian?"
Aku tak mengerti apa maksud ucapannya

Wajah murka semakin memerah
Seperti gincu yang kau gunakan kala itu
Mengecap bak bibir di gelas hitamku

Aku hanya tertunduk tanpa berkata
Lalu kau pergi dan menghilang
Tanpa kenangan
Sampai kini sulit untuk kukejar

#R_21des2016

Enggan Kembali

Pertanyaan yang sama akan muncul
Masihkah hatimu menyimpan rasa?
Kutegaskan dengan sikap
Semua sudah sirna
Bersama rangkaian kisah yang tak elok tuk diingat

Memori dan kenangan sudah terhapus oleh waktu
Suka citamu dulu tak sedikitpun tersisa di benakku
Kata-kata klise yang sering kau ucap mulai melebur bercampur ragu

Tak ada lagi hangat seperti dulu
Karna ulahmu yang menganggu
Merusak segala impian yang telah menggunung
Menjajah hati yang kini kembali berdebu

Aku hanya meminta
Tak banyak yang kuharap
Rasa ini berat untuk kutemukan
Jangan paksa aku untuk kembali mendekap
Karena akibat sekalipun tak akan terjadi tanpa sebab

#R_20des2016

Rindu Tak Kunjung Bertemu

Aku cemburu
Rindu matahari dengan awan selalu bersambut kala pagi
Bulan bintang pun tak kalah syahdu tiap malam hari
Saling melengkapi dan memberi arti
Tapi itu hanya sekilas fantasi

Lama tak kunjung memeluk sang pemilik hati
Suara yang lembut kian menjauh
Sapa dari bibir manis itu menjadi halu
Tangan yang tak pernah bertaut
Diiringi tatapan mata yang sudah lupa cara memandang

Terlalu lama
Ya, terlalu lama rindu ini tertahan
Di sela hati yang temaram
Pun aku sempat memendam
Ingin kujemput bersama tetesan air hujan

Namun, sepertinya itu hanya gurauan
Karena rinduku tak akan pernah tersampaikan
Biarlah ini menjadi cerita
Bahwa kita pernah menyimpan rasa yang sempat membara

#R_20des2016

Mata Mendung Ibu Pertiwi

Kelam sekali langit akhir-akhir ini
Musim hujan kian menjadi
Ada apa dengan bumi pertiwi?
Apa sudah terlalu tua untuk dipijak?
Tak ada yang mengerti

Warna hitam pekat memancar dari mata sang ibu
Sekiranya menahan segala bentuk bencana yang tengah melanda
Perdebatan antar umat manusia
Hingga banyak manusia mati dengan percuma

Kita tidak bisa mengatur
Apalagi merencanakan semua yang ada
Belajarlah dengan pengalaman
Mungkin kita kurang meminta
Atau Tuhan mulai murka
Melihat umatnya sudah tak bisa bersikap seperti manusia

Sang ibu kini terlihat lemah
Ia rindu buminya seperti dahulu
Banyak orang bersatu tanpa melihat suku
Memikul beban bersama
Memajukan bangsa dengan gempita

Kerinduan yang mustahil untuk diwujudkan
Tak kan kembali sebelum ibu pertiwi menangis
Membawa peringatan penuh arti
Sampai manusia benar-benar mau memahami

#R_20des2016

Pembenci Tetap Membenci

Pembenci,
Ya... Itulah salah satu sifat manusia
Terkadang hal itu bisa menjadi karakter
Berperan penuh untuk membenci sesamanya

Pembenci,
Apa pekerjaannya?
Berdagang, tukang cuci mobil, atau seorang bos?
Bukan itu semua
Pembenci bekerja untuk membenci
Sekali membenci hal yang terlihat benar pun akan dicaci

Pembenci,
Bukan keinginan seseorang untuk menjadi seperti itu
Hanya kedengkian, kesombongan, dan kesalahan menjadi alasan
Semua diawali dengan "KARENA"

Tapi semua tidak bisa berdusta
Pembenci akan selalu membenci
Selama raga ini belum mati
Saat hal yang patut dibencipun masih membayangi

#R_20des2016

Aku Membiru

Jika sekarang hati ini masih biru
Tak usah kau tanya
Aku masih sama
Sendiri dengan balutan kalbu
Bersama sendu yang terus menjerat di tidur malamku

Aku tak khawatir
Sedikitpun tak pernah meragukan kuasa-Nya
Di saat hati ini berperang pedih
Angka-angka umur yang kian menggelinding
Aku menjadi yakin
Ini belum saatnya untuk berdua

Raga yang ringkih ini belum mau untuk berjuang
Jiwa yang kusebut tegar belum mampu memiliki tuan
Biarlah tetap begini
Hingga sampai rahasia indah itu terbuka dengan sendiri

#R_20des2016

Senin, 19 Desember 2016

Memilih Pilihan

Setiap manusia selalu dihadapkan dengan pilihan
Pilihan yang mengharuskan untuk memilih
Satu pilihan yang dipilih untuk dipilah
Merelakan sebuah keinginan demi suatu keputusan

Tidak cukup mudah untuk menjadikan nyata
Sukar memang untuk membuatnya ada
Tapi di sinilah egomu diuji
Menentukan sebuah pilihan untuk harapan

Ketegasan yang selama ini enggan nampak
Kini saatnya untuk terlihat
Risau, gundah dan terlebih galau selalu menjadi pendamping setia
Namun manusia hanya mempunyai satu yang dipilih
Memilih pilihan dari yang terpilih

#R_20des2016